Jurnal Ilmiah
Analisis pengaruh pemberdayaan kader terhadap ketepatan deteksi dini risiko stunting pada balita
Pendahuluan: Stunting adalah kondisi kegagalan pertumbuhan yang diakibatkan oleh kekurangan gizi kronis, stimulasi psikososial yang tidak memadai, dan infeksi berulang, terutama selama 1,000 hari pertama kehidupan. Anak-anak diklasifikasikan sebagai stunting ketika tinggi badan menurut usia mereka di bawah minus dua standar deviasi (-2 SD) dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Stunting tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Jambe, Kabupaten Tangerang, di mana kasusnya terus meningkat. kader posyandu memainkan peran penting dalam deteksi dini dan pencegahan stunting. Namun, pengetahuan dan keterampilan yang terbatas dalam pengukuran antropometri dapat mengurangi akurasi deteksi dini. Pemberdayaan kader melalui pelatihan, pendampingan, dan supervisi diharapkan dapat meningkatkan akurasi deteksi dini risiko stunting pada balita. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh pemberdayaan kader terhadap akurasi deteksi dini risiko stunting pada balita. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kuasi-eksperimental menggunakan pre-test dan post-test dengan kelompok kontrol. Sampel terdiri dari 60 kader posyandu yang dipilih dari wilayah kerja Puskesmas Jambe. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur, observasi langsung, pengukuran antropometri, dan penilaian pre-test dan post-test terhadap pengetahuan dan keterampilan kader. Intervensi terdiri dari pelatihan teori, pengukuran antropometri, dan pendampingan lapangan. Data dianalisis menggunakan uji statistik yang sesuai untuk menilai perbedaan akurasi deteksi dini risiko stunting antara kelompok intervensi dan kontrol, dengan tingkat signifikansi ditetapkan pada p < 0,05. Hasil: Seluruh variabel mengalami peningkatan skor setelah intervensi. Rata-rata pengetahuan kader meningkat dari 8.63 menjadi 13.88, sikap meningkat dari 46.07 menjadi 62.12, efikasi diri meningkat dari 29.08 menjadi 37.92, dan praktik pelaksanaan tugas meningkat dari 30.52 menjadi 38.87. Selain itu, rata-rata skor hambatan dan dukungan dalam deteksi dini risiko stunting meningkat dari 30.33 menjadi 38.95, sedangkan rata-rata ketepatan deteksi dini risiko stunting meningkat dari 11.70 menjadi 16.60. Hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan, sikap, efikasi diri, praktik pelaksanaan tugas, dukungan dalam deteksi dini risiko stunting, serta ketepatan deteksi dini risiko stunting setelah pemberian intervensi. Simpulan: Pemberdayaan kader melalui pelatihan, pendampingan, dan supervisi diharapkan dapat meningkatkan akurasi deteksi dini risiko stunting pada balita. Saran: Penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas jumlah sampel dan cakupan wilayah penelitian, sehingga hasil yang diperoleh dapat lebih representatif dan memiliki tingkat generalisasi yang lebih tinggi.
Tidak tersedia versi lain